Sabtu, 01 November 2014

MAKALAH KOMUNIKASI PERAWAT DAN DOKTER



MAKALAH KOMUNIKASI DALAM KEPERAWATAN
“KOMUNIKASI PERAWAT DAN DOKTER”

Kelompok 6


BAB I
PENDAHULUAN 

A.    Latar Belakang
          Di Indonesia ada berbagai macam profesi dalam kesehatan.Profesi tersebut juga mengakibatkan banyaknya institusi kesehatan,diantaranya dokter,bidan,ahli gizi,kesehatan masyarakat,radiologi,teknobiomedik, farmasi,analis kesehatan, dan perawat. Semua profesi tadi diwajibkan saling bekerjasama dalam menjalankan profesionalitas profesinya masing-masing.
          Perawat merupakan satu dari banyaknya profesi kesehatan yang ada.Semua profesi kesehatan yang ada tentu memiliki visi yang sama yakni terwujudnya pelayanan kesehatan yang prima.Namun dalam pelaksanaannya perawat tidak sendirian.Perawat ditemani oleh dokter,analis kesehatan,tim kesehatan masyarakat,analis kesehatan,ahli gizi,radiologi dan lainnya.
          Kemudian bagaimana caranya supaya tugas antar profesi keperawatan dapat berjalan secara harmonis dan pelayanan kesehatan menjadi maksimal? Kolaborasi pendidikan dan praktik antar profesi kesehatan tentunya sangat dibutuhkan.Semua jenis profesi harus mempunyai keinginan untuk berkolaborasi.Perawat,bidan, dokter,dan semua profesi lain merencanakan dan mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya di bangku pelajar. Ketergantungan antar profesi pun dapat tetap ada asalakan dalam batas-batas lingkup praktek yang sesuai dengan aturan yang ada.

B.     TUJUAN
Agar Mahasiswa/i Dapat:
1.      Memahami arti komunikasi perawat dan dokter.
2.      Memahami kolaborasi perawat dan dokter.
3.      Memahami Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi.
4.      Mengaplikasikan komunikasi dalam dunia keperawatan.




                                                                                                                          

1
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Komunikasi
Komunikasi merupakan proses kompleks yang melibatkan perilaku dan memungkinkan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan dunia sekitarnya.     Nursalam (2007) menyatakan, komunikasi juga merupakan suatu seni untuk dapat menyusun dan menghantarkan suatu pesan dengan cara yang mudah sehingga orang lain dapat mengerti dan menerima maksud dan tujuan pemberi pesan Menurut Potter dan Perry (1993), komunikasi terjadi pada tiga tingkatan yaitu intrapersonal, interpersonal dan publik. Makalah ini difokuskan pada komunikasi interpersonal yang terapeutik. Komunikasi interpersonal adalah interaksi yang terjadi antara sedikitnya dua orang atau dalam kelompok kecil, terutama dalam keperawatan. Komunikasi interpersonal yang sehat memungkinkan penyelesaian masalah, berbagai ide, pengambilan keputusan, dan pertumbuhan personal.

B.     Prinsip-prinsip Komunikasi
Adapun prinsip-prinsip komunikasi terapeutik menurut Carl Rogers yaitu :
1.      Perawat harus mengenal dirinya sendiri.
2.      Komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima, percaya, dan menghargai.
3.      Perawat harus memahami, menghayati nilai yang dianut oleh pasien.
4.      Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan pasien, baik fisik maupun mental.
5.      Perawat harus dapat menciptakan suasana yang nyaman dan aman bagi pasien.
6.      Kejujuran dan terbuka.
7.      Mampu sebagai role model.
8.      Altruisme.
9.      Bertanggung jawab .

C.    Komponen-komponen dalam Komunikasi
a.       Sender (pemberi pesan): individu yang bertugas mengirimkan pesan.
b.      Receiver (penerima pesan): seseorang yang menerima pesan. Bisa berbentuk pesan yang diterima maupun pesan yang sudah diinterpretasikan.
c.       Pesan : informasi yang diterima, bisa berupa kata, ide atau perasaan. Pesan akan efektif bila jelas dan terorganisir yang diekspresikan oleh si pengirim pesan.
d.      Media: metode yang digunakan dalam pesan yaitu kata, bisa dengan cara ditulis, diucapkan, diraba, dicium.
2
Contoh: catatan atau surat adalah kata; bau badan atau cium parfum adalah penciuman (dicium), dan lain-lain.
e.       Umpan balik: penerima pesan memberikan informasi/ pesan kembali kepada pengirim pesan dalam bentuk komunikasi yang efektif. Umpan balik merupakan proses yang kontinue karena memberikan respons pesan dan mengirimkan pesan berupa stimulus yang baru kepada pengirim pesan.

D.    Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi
1.      Situasi/suasana
Situasi/suasana yang hiruk pikuk atau penuh kebisangan akan mempengaruhi baik/tidaknya pesan diterima oleh komunikan,suara bising yang diterima komunikan saat proses komunikasi berlangsung membuat pesan tidak jelas, kabur, bahkan sulit diterima.Oleh karena itu, sebelum proses komunikasi dilaksanakan, lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa supaya tenang dan nyaman.Komunikasi yang berlangsung dan dilakukan pada waktu yang kurang tepat mungkin diterima dengan kurang tepat pula.Misalnya,apabila perawat memberikan penjelasan kepada orang tua tentang cara menjaga kesterilan luka pada saat orang tua sedang sedih,tentu saja pesan tersebut kurang diterima dengan baik oleh orang tua karena perhatian orang tua tidak berfokus pada pesan yang disampaikan perawat,melainkan pada perasaan sedihnya.
2.      Kejelasan pesan
Kejelasan pesan akan sangat mempengaruhi keefektifan komunikasi.Pesan yang kurang jelas dapat ditafsirkan berbeda oleh komunikan sehingga antara komunikan dan komunikator dapat berbeda persepsi tentang pesan yang disampaikan.Hal ini akan sangat mempengaruhi pencapaian tujuan komunikasi yang dijalankan.Oleh karena itu,komunikator harus memahami pesan sebelum menyampaikannya pada komunikan, dapat dimengerti komunikan dan menggunakan artikulasi dan kalimat yang jelas.

E.     Komunikasi antara Perawat dengan Dokter
Hubungan perawat-dokter adalah satu bentuk hubungan interaksi yang telah cukup lama dikenal ketika memberikan bantuan kepada pasien.Perawat bekerja sama dangan dokter dalam berbagai bentuk. Perawat mungkin bekerja di lingkungan di mana kebanyakan asuhan keperawatan bergantung pada instruksi medis.
3
Perawat diruang perawatan intensif dapat mengikuti standar prosedur yang telah ditetapkan yang mengizinkan perawat bertindak lebih mandiri.Perawat dapat bekerja dalam bentuk kolaborasi dengan dokter. Contoh. Ketika perawat menyiapkan pasien yang baru saja didiagnosa diabetes pulang kerumah, perawat dan dokter bersama-sama mengajarkan klien dan keluarga begaimana perawatan diabetes di rumah.Selain itu komunikasi antara perawat dengan dokter dapat terbentuk saat visit dokter terhadap pasien, disitu peran perawat adalah memberikan data pasien meliputi TTV, anamnesa, serta keluhan-keluhan dari pasien,dan data penunjang seperti hasil laboraturium sehingga dokter dapat mendiagnosa secara pasti mengenai penyakit pasien.Pada saat perawat berkomunikasi dengan dokter pastilah menggunakan istilah-istilah medis, disinilah perawat dituntut untuk belajar istilah-istilah medis sehingga tidak terjadi kebingungan saat berkomunikasi dan komunikasi dapat berjalan dengan baik serta mencapai tujuan yang diinginkan.
Komuniaksi antara perawat dengan dokter dapat berjalan dengan baik apabila dari kedua pihak dapat saling berkolaborasi dan bukan hanya menjalankan tugas secara individu, perawat dan dokter sendiri adalah kesatuan tenaga medis yang tidak bisa dipisahkan. Dokter membutuhkan bantuan perawat dalam memberikan data-data asuhan keperawatan, dan perawat sendiri membutuhkan bantuan dokter untuk mendiagnosa secara pasti penyakit pasien serta memberikan penanganan lebih lanjut kepada pasien. Semua itu dapat terwujud dwngan baik berawal dari komunikasi yang baik pula antara perawat dengan dokter.

F.     Pengertian  Kolaborasi
        Kolaborasi adalah hubungan kerja diantara tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada pasien/klien adalah dalam melakukan diskusi tentang diagnosa,melakukan kerjasama dalam asuhan kesehatan,saling berkonsultasi atau komunikasi serta masing-masing bertanggung jawab pada pekerjaannya.
Namun demikian kolaborasi sulit didefinisikan untuk menggambarkan apa yang sebenarnya yang menjadi esensi dari kegiatan ini. Seperti yang dikemukakan National Joint Practice Commision (1977) yang dikutip Siegler dan Whitney (2000) bahwa tidak ada definisi yang mampu menjelaskan sekian ragam variasi dan kompleknya kolaborasi dalam kontek perawatan kesehatan berdasarkan kamus Heritage Amerika (2000), kolaborasi adalah bekerja bersama khususnya dalam usaha penggambungkan pemikiran.

4
       Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukanan oleh Gray (1989) menggambarkan bahwa kolaborasi sebagai suatu proses berfikir dimana pihak yang terklibat memandang aspek-aspek perbedaan dari suatu masalah serta menemukan solusi dari perbedaan tersebut dan keterbatasan padangan mereka terhadap apa yang dapat dilakukan.
       American Medical Assosiation (AMA), 1994, setelah melalui diskusi dan negosiasi yang panjang dalam kesepakatan hubungan professional dokter dan perawat, mendefinisikan istilah kolaborasi sebagai berikut ; Kolaborasi adalah proses dimana dokter dan perawat merencanakan dan praktek bersama sebagai kolega, bekerja saling ketergantungan dalam batasan-batasan lingkup praktek mereka dengan berbagi nilai-nilai dan saling mengakui dan
menghargai terhadap setiap orang yang berkontribusi untuk merawat individu, keluarga dan masyarakat.
      Tujuan kolaborasi perawat adalah untuk membahas masalah-masalah tentang klien dan untuk meningkatkan pamahaman tentang kontrbusi setiap anggota tim serta untuk mengidentifikasi cara-cara meningkatkan mutu asuhan klien.Agar hubungan kolaborasi dapat optimal,semua anggota profesi harus mempunyai keinginan untuk bekerjasama.Perawat dan dokter merencanakan dan mempraktekkan sebagai kolega,bekerja saling ketergantungan dalam batas-batas lingkup praktek dengan berbagai nilai-nilai dan pengetahuan serta respek terhadap orang lain yang berkonstribusi terhadap perawatan individu,keluarga dan masyarakat.
G.    Hambatan Kolaborasi Dokter dan Perawat
a.       Dominasi Kekuasan.
Dari pengamatan penulis terutama dalam praktek Asuhan Keperawatan perawat belum dapat melaksanakan fungsi kolaborasi dengan baik khususnya dengan dokter walaupun banyak pekerjaan yang seharusnya dilakukan dokter dikerjakan oleh perawat, walaupun kadang tidak ada pelimpahan tugasnya dan wewenang. Hal ini karena masih banyaknya dokter yang memandang bahwa perawat merupakan tenaga vokasional. Degradasi keperawatan ke posisi bawahan dalam hubungan kolaborasi perawat-dokter, secara empiris hal ini menunjukkan bahwa dokter berada di tengah proses pengambilan keputusan dan perawat melaksanakan keputusan tersebut. Pada tahun 1968, psikiater Leonard Stein menggambarkan hubungan perawat-dokter pada kenyataanya perawat menjadi pasif.



5 
b.      Perbedaan Tingkat Pendidikan/Pengetahuan
Perbedaan tingkat pendidikan dan pengetahuan dokter dan perawat secara umum masih jauh dari harapan hal ini dapat berdampak pada interprestasi terhadap masalah kesehatan pasien yang berbeda, tentu juga akan berdampak pada mutu asuhan yang diberikan.
c.       Komunikasi
Komunikasi dibutuhkan untuk mewujudkan kolaborasi yang efektif, bertanggungjawab dan saling menghargai antar kolaborator, catatan kesehatan pasien akan menjadi sumber utama komunikasi yang secara terbuka dapat dipahami sebagai pemberi informasi dari disiplin profesi untuk pengambilan keputusan. Kesenjangan tingkat pendidikan dan pengetahuan akan menghambat proses komunikasi yang efektif.
d.      Cara Pandang
Perbedaan antara dokter dan perawat dalam upaya kolaboratif terlihat cukup mencolok. Dokter dapat menentukan atau memandang kolaborasi dalam perspektif yang berbeda dari perawat. Mungkin dokter berpikir bahwa kerjasama tersirat dalam tindak lanjut sehubungan dengan mengikuti perintah /instruksi daripada saling partisipasi dalam pengambilan keputusan. Meskipun komunikasi merupakan komponen yang diperlukan, itu saja tidak cukup untuk memungkinkan kolaborasi terjadi. Gaya maupun cara berkomunikasi juga berpengaruh terhadap efektivitas komunikasi. Pelaksanaan instruksi dokter oleh perawat dipandang sebagai kolaborasi oleh dokter sedangkan perawat merasa mereka sedang diperintahkan untuk melakukan sesuatu. Kemungkinan kedua adalah bahwa perawat tidak merasa nyaman “menantang” dokter dengan memberikan sudut pandang yang berbeda.. Atau, mungkin input yang perawat berikan tidak dihargai atau ditindaklanjuti, sehingga interaksi tersebut tidak dirasakan oleh perawat sebagai kolaborasi.











6
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
      Dalam melaksanakan tugasnya, perawat tidak dapat bekerja tanpa berkolaborasi dengan profesi lain. Profesi lain tersebut diantaranya adalah dokter, ahli gizi, apoteker dsb. Setiap tenaga profesi tersebut mempunyai tanggung jawab terhadap kesehatan pasien. Bila setiap profesi telah dapat saling menghargai, maka hubungan kerja sama akan dapat terjalin dengan baik. Selain itu perawat juga mempunyai tanggung jawab dan memiliki untuk:
1)      Perawat senantiasa memelihara hubungan baik antara sesama perawat dan dengan tenaga kesehatan lainnya, baik dalam memelihara kerahasiaan suasana lingkungan kerja maupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara menyeluruh.
2)      Perawat senantiasa menyebarluaskan pengetahuan, keterampilan dan pengalamannya kepada sesama perawat serta menerima pengetahuan dan pengalaman dari profesi lain dalam rangka meningkatkan kemampuan dalam bidang keperawatan.
3)      Perawat merupakan kesatuan integral dengan tenaga kesehatan lainya yang tak bisa dipisah – pisahkan dan disendirikan.
      Tidak ada kelompok yang dapat menyatakan lebih berkuasa diatas yang lainnya. Masing-masing profesi memiliki kompetensi profesional yang berbeda sehingga ketika digabungkan dapat menjadi kekuatan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Banyaknya faktor yang berpengaruh seperti kerjasama, sikap saling menerima,
berbagi tanggung jawab, komunikasi efektif sangat menentukan bagaimana suatu tim berfungsi.Kolaborasi yang efektif  antara anggota tim kesehatan memfasilitasi terselenggaranya pelayanan pasien yanag berkualitas.

B.     Saran
1.      Perlu adanya sosialisasi praktik kolaborasi dan managed care diantara tim kerja kesehatan atau profesi kesehatan mulai dari situasi pendidikan.
2.      Untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan kesehatan perlu adanya peningkatan pendidikan perawat dan komunikasi yang baik ke pasien maupun antar tim kerja, dan untuk meningkatkan praktik kolaborasi perlu adanya komitmen bersama antara pemimpin (struktural) dan fungsional (profesi kesehatan), dimana pimpinan dapat mengadopsi managed care dan mensosialisasikan serta dapat diterapkan pada pelayanan.


7
Daftar Pustaka
2.      http://milkabenuf.wordpress.com/2013/11/16/komunikasi-antara-profesi-kesehatan/
3.      http://evilprincekyu.wordpress.com/2013/03/18/komunikasi-perawat-dengan-tenaga-kesehatan/
4.      http://dhinninuraeni.blogspot.com/2012/06/kolaborasi-perawat-dan-dokter.html

MAKALAH AGAMA BUDHA





TUGAS KELOMPOK
MAKALAH AGAMA BUDHA
Mata Kuliah:AGAMA









KATA PENGANTAR

Puji syukur kelompok kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat-Nya kepada kelompok kami, sehingga kelompok kami dapat menyelesaikan makalah ini  tepat pada waktunya. Makalah ini memuat tentang “Agama Budha” dan makalah ini disusun agar pembaca dapat mengembangkan pendidikan yang ada di Indonesia.
Makalah yang kami buat ini pasti tidak lepas dari kesalahan,sekiranya terdapat kekurang tepatan dalam pembahasannya kami minta pembaca sekalian bisa memberikan masukan. kelompok kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Serta, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.


































i

DAFTAR ISI
Kata Pengantar…………………………………………………..……………………………....…i
Daftar Isi…………………………………………………………………………….…………….ii
BAB I……………………………………………………………………………………………...1
 A.Pendahuluan……………………………………………………………………….....………...1
B.Tujuan Mempelajari Agama Budha………………………………………………….…………1
BAB II……………………………………………………………………………………………..2
 A.Pengertian Agama Budha………………………………………………………………………2
 B.Sejarah Masuknya Agama Budha Di Indonesia………………………………………………..2
C.Perkembangan Agama Budha DI Indonesia……………………………………………………2
D.Pandangan Agama Budha Terhadap Tuhan,Iman,Keselamatan,Dosa,Surga dan Neraka……...2
E.SumberR Hukum Agama Budha………………………………………………………………..3
F.Tata Cara Ibadah Dalam Agama Budha………………………………………………………...3
G.Perintah Peraturan Agama Buddha……………………………………………………………..3
H.Implikasi Agama Dalam Tugas Keperawatan………………………………………………….4
BAB III……………………………………………………………………………………………5
PENUTUP………………………………………………………………………………………...5
Kesimpulan………………………………………………………………………………………..5
Daftar Pustaka























ii
BAB I
A.PENDAHULUAN

Agama ini bertolak dari keadaan yang nyata, terutama tentang tata susila yang harus dilaksanakan oleh manusia agar ia terbebas  oleh lingkaran Dosa. Pada mulanya ajaran ini bukan merupakan agama tetapi hanya suatu ajaran untuk melepaskan diri dari sangsara (samsara) dengan tenaga sendiri, sebagaimana dilakukan sang Budha. Tetapi ajaran ini kemudian berubah manjadi agama yang banyak penganutnya dan mempengaruhi daya pikir banyak orang.
             Dari latar belakang munculnya, agama Budha mempunyai kaitan erat dengan agama Hindu. Sebagai agama, ajaran Budha tidak bertolak dari Tuhan dan hubungan-Nya dengan alam dan seluruh isinya.


B.Tujuan Mempelajari Agama Budha

1.untuk mengetahui atau mempelajari lebih dalam tentang ajaran agama budha
2.Mengetahui perkembangan agama budha di Indonesia
3.untuk memahami bagaimana kita harus saling menghargai antar umat beragama


















1
BAB II
A.PENGERTIAN AGAMA BUDHA

Agama Buddha
adalah sebuah agama dan filsafat yang berasal dari anak benua India dan meliputi beragam tradisi kepercayaan, dan praktik yang sebagian besar berdasarkan pada ajaran yang dikaitkan dengan Siddhartha Gautama, yang secara umum dikenal sebagai Sang Buddha (berarti “yang telah sadar” dalam bahasa Sanskerta dan Pali). Sang Buddha hidup dan mengajar di bagian timur anak benua India dalam beberapa waktu antara abad ke-6 sampai ke-4 SEU (Sebelum Era Umum). Beliau dikenal oleh para umat Buddha sebagai seorang guru yang telah sadar atau tercerahkan yang membagikan wawasan-Nya untuk membantu makhluk hidup mengakhiri ketidaktahuan/kebodohan (avidyā), kehausan/napsu rendah (taṇhā), dan penderitaan (dukkha), dengan menyadari sebab musabab saling bergantungan dan sunyatam dan mencapai Nirvana(Pali:Nibbana).
 
B.SEJARAH MASUKNYA AGAMA BUDHA DIINDONESIA
Menurut bukti prasasti serta peninggalan-peninggalan sejarah yang ada, diperkirakan Agama Budha masuk ke Indonesia sekitar abad ke 5. Menurut para ahli, Agama Budha dibawa oleh pengelana dari  Cina bernama Fa Hsien. Kerajaan Sriwijaya diyakini sebagai Kerajaan Budha pertama yang ada di Indonesia.Hal ini dibuktikan dengan adanya catatan sejarah dari seorang sarjana Cina bernama:    I-Tsing.
 Selain Sriwijaya di Sumatera, adapula Kerajaan Syailendra di Pulau Jawa. Dibuktikan dengan adanya peninggalan berupa candi-candi, diantaranya Candi Borobudur, Candi Mendut dan Candi Pawon.

C.PERKEMBANGAN AGAMA BUDHA DI INDONESIA
        Budha adalah salah satu agama tertua di Indonesia. Pada masa orde  baru, agama Budha dan Hindu dijadikan 5 agama resmi yang ada di Indonesia. Setelah terjadinya Gerakan G-30S/PKI, pengikut agama Budha semakin banyak. Ini semua disebabkan oleh peraturan orde baru yang mewajibkan setiap warga negara Indonesia wajib memiliki satu agama untuk dianut agar tidak dikira komunis.

D.PANDANGAN AGAMA BUDHA TERHADAP TUHAN,IMAN,KESELAMATAN,DOSA,SURGA DAN NERAKA.

1.TUHAN
    Di dalam agama Buddha tujuan hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan (anuttara samyak sambodhi)atau            pencerahan      sejati.
 hanya dengan usaha sendirilah kebuddhaan dapat dicapai. Buddha hanya merupakan contoh, juru pandu, dan guru bagi makhluk yang perlu melalui jalan mereka sendiri, mencapai pencerahan rohani, dan melihat kebenaran & realitas sebenar-benarnya.
2.IMAN
    Sebagai umat Buddha, tentunya mempunyai keyakinan terhadap Buddha, Dharma dan Sangha.
 bahwa keyakinan terhadap agama Buddha merupakan salah satu yang dimiliki oleh seorang.

2
umat Buddha dan umat Buddha harus mengembangkan keyakinan terhadap ajaran Buddha.
 Keyakinan sangat penting karena mendorong kita untuk membuktikan sendiri ajaran Buddha.
3.KESELAMATAN
    Konsep agama Buddha tentang Keselamatan dan Kebebasan memang berbeda dengan agama-agama lainnya,  Jalan Keselamatan yang ditunjukkan oleh Sang Buddha bukanlah monopoli untuk suatu suku-bangsa, ras, agama dan golongan tertentu saja, tapi untuk semua makhluk, seperti tercantum dalam Avatamsaka-sutra bab 10:
4.DOSA
  Dosa adalah penolakan yang sangat terhadap sesuatu sehingga membuat pikiran selalu emosi, kesal dan penuh dengan            kebencian.
Dosa ini dapat diibaratkan dengan sebuah titik api yang menyala, dan bila tidak segera dipadamkan maka akan menjadi kobaran api yang lebih besar, sehingga dapat merusak segalanya, dalam hal ini merusak pemikiran, kesehatan fisik dan mental, bahkan dapat membuat seseorang   menjadi           pembunuh.
tujuan akhir dari hidup manusia adalah kembali ke sorga ciptaan Tuhan yang kekal.

5.SURGA DAN NERAKA
            Menurut ajaran agama Buddha Neraka itu sudah ada pembagian-nya berdasarkan seberapa besar karma yang ditanggung oleh seseorang. Yaitu  alam yang menyedihkan,penuh dengan kesengsaraan,tiada kebahagian sesaat pun disana.mereka yang tidak memiliki kebajikan akan terlahir di alam   ini.
Surga adalah tempat tinggal yang kekal penuh dengan kebahagian dimana para makhluk hidup menikmati kesenangan.

E.SUMBER HUKUM AGAMA BUDHA
1.Tripitaka
            Ajaran agama Budha bersumber pada kitab Tripitaka yang merupakan kumpulan khotbah, keterangan, perumpamaan, dan percakapan yang pernah dilakukan sang Budha dengan para siswa dan pengikutnya

F.Tata Cara Ibadah Dalam Agama Budha
Agama Buddha juga mengajarkan tata cara beribadah, yang biasanya disebut sebagai puja.
Istilah 'puja' berarti menghormat atau memuja, dan mengacu pada upacara sebagai sarana untuk menguatkan dan menuangkan    keyakinan.
tidak ada upacara yang 'tak punya arti' bila kita berusaha mencari makna artinya.

G.Perintah Peraturan     Agama Buddha
            Sang Buddha mengajarkan berbagai macam ajaran yang keseluruhannya dapat digolongkan menjadi tiga inti ajaran, yaitu Sila, Samadhi dan Panna. Inti dari Sila adalah tidak melakukan kejahatan dan selalu berbaut kebajikan. Inti dari Samadhi adalah mensucikan pikiran dengan melaksanakan samadhi. Tujuan akhir dari ajaran Sang Buddha tersebut adalah untuk membawa para pelaksananya pada pembebasan (Panna).

3
H.Implikasi Agama Dalam Tugas     Keperawatan
           
Peran agama dalam keperawatan adalah topik yang jarang untuk dibahas, padahal kita tahu hal ini sangat berpengaruh didalam pelayanan, hal ini terbukti dengan didalam keperawatan kita juga mengenal tentang kebutuhan spiritual (walaupun tidak benar-benar dapat disamakan denganagama).Agama budha mengajarkan kepada semua umatnya untuk menghargai makhluk hidup tanpa terkecuali dari sudut pandang itulah pemberian askep harus sesuai ajaran agama budha. Karena apabila tidak terpenuhi maka klien merasa tidak puas atas pelayanan perawat.


SOAL
1.apa nama kitab suci agama budha………
A.al-qur’an                  C. KitabTripitaka
B.alkitab                      D.A dan B benar
Jawaban;C
2.Siapa orang pertama yang membawa agama budha masuk di Indonesia……
 A. Fa Hsien    C.Robert
B.darawin       D.Aristoteles
Jawaban:A
3.Dimanakah kerajaan budha pertama di Indonesia…….
A.Majapahit                C.Kutai
B.Sriwija                     D.Ternate
Jawaban:B
4.Agama budha tersebar di Indonesia di perkirakan pada abad berapa……
A.Abad 5                    C.Abad 8
B.Abad 7                    D.Abad 10
Jawaban:A
5. Menurut para ahli, Agama Budha dibawa ke indonesia oleh pengelana yang berasal dari……..  A.Arab                        C.Cina
B.Mesir                       D.Spanyol
 Jawaban:C
6. Dalam agama Budha di Indonesia sendiri terdapat fitur utama dalam ajarannya, yaitu pengakuan dari……..
A.Empat kebenaran mulia” dan “Jalan utama berunsur delapan
B. Empat kebenaran mulia” dan “Jalan utama berunsur sepuluh
C. Empat kebenaran mulia” dan “Jalan utama berunsur empat
D. Empat kebenaran mulia” dan “Jalan utama berunsur Sembilan
Jawaban:A     
7.Menurut agama budha  penolakan yang sangat terhadap sesuatu sehingga membuat pikiran selalu emosi, kesal dan penuh dengan kebencian di sebut…..
A.Dosa            C.Kasih
B.Dendam       D.Kebencian
Jawaban:A
8.Dalam agama budha kasih sayang dan cinta kasih di sebut……
A.Moksa         C.Moha
B.Reinkarnasi  D. metta
Jawaban:D
9.Tripitaka berasal dari bahasa…..
A.
Sanskerta    C.Arab
B.Inggris         D.indonesia
Jawaban:A
10. Penyebaran ajaran Buddha di sebagian besar Asia bersifat……
A.Benci           C. Damai
B.Sirik             D.Semua benar
Jawaban:C


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
            Dari pembahasan di atas kami menyimpulkan bahwa agama budha merupakan agama yang mengajarkan bahwa manusia menjadi baik atau jahat bukan karena kasta atau status sosial, bukan pula karena percaya atau menganut suatu ajaran            agama.
Agama Buddha  juga tidak pernah memaksa seseorang untuk mempercayai ajaranNya. Semua adalah pilihan sendiri, tergantung pada hasil kajian masing-masing individu.














DAFTAR PUSTAKA
http://laumuwinan.blogspot.com/2013/02/pengertian-agama-buddha.html
25/09/2013
http://laumuwinan.blogspot.com/2013/02/sejarah agama -buddha-di indonesia.html
Oleh: http://Willy Yandi Wijaya.com
Disusun oleh: http:// Bhagavant.com
Penyusun : http://Namo Buddhaya.com
 
http://budhismefaiviel.blogspot.com/2012/05/kitab-suci-agama-budha.html
 http://viharadhammasasana.blogspot.com/2009/05/tata-cara-www.google.peribadatan-agama-buddha.com