Sabtu, 04 Maret 2023

KONSEP PENDIDIKAN KESEHATAN (PENKES)

Pendidikan Kesehatan

1.      Definisi

Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara menyebarluaskan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarkat tidak saja sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan. Penyuluhan kesehatan adalah gabungan berbagai kegiatan dan kesempatan yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar untuk mencapai suatu keadaan dimana individu, keluarga, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan ingin hidup sehat, tahu bagaimana caranya melakukan apa yang bisa dilakukan, secara perseorangan maupun secara kelompok dan meminta pertolongan (Effendy, 2010).

Pendidikan kesehatan dalam arti pendidikan. secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain, baik individu, kelompok, atau masyarakat, sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan atau promosi kesehatan (Notoadmojo, 2012).

Pendidikan kesehatan merupakan suatu proses perubahan perilaku yang dinamis dengan tujuan mengubah atau mempengaruhi perilaku manusia yang meliputi komponen pengetahuan, sikap, ataupun praktik yang berhubungan dengan tujuan hidup sehat baik secara individu, kelompok maupun masyarakat, serta merupakan komponen dari program kesehatan (Suliha, 2002).

Pendidikan kesehatan adalah upaya menterjemahkan apa yang telah diketahui tentang kesehatan kedalam perilaku yang diinginkan dari perorangan ataupun masyarakat melalui proses pendidikan. Edukasi adalah salah satu bentuk pendidikan kesehatan yang dilakukan dengan menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan sehingga masyarakat setidaknya sadar, tahu dan mengerti tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu ajaran yang ada hubungannya dengan kesehatan ( Susilo, 2011).

2.      Tujuan pendidikan kesehatan

Pendidikan kesehatan bertujuan meningkatkan pengetahuan,  kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat dan aktif berperan serta dalam upaya kesehatan. Tujuan tersebut dapat diperinci menjadi:

a.       Menjadikan kesehatan sebagai sesuatu yang bernilai di masyarakat.

b.      Menolong individu agar mampu secara mandiri/berkelompok mengadakan kegiatan untuk mencapai tujuan hidup sehat.

c.       Mendorong pengembangan dan penggunaan sarana pelayanan kesehatan yang ada secara tepat.

d.      Agar klien mempelajari apa yang dapat dilakukan sendiri dan bagaimana caranya tanpa meminta pertolongan kepada sarana pelayanan kesehatan formal.

e.       Agar terciptanya suasana yang kondusif dimana individu, keluarga, kelompok dan masyarakat mengubah sikap dan tingkah lakunya. (Ali, 2010).

3.      Tahap-tahap kegiatan pendidikan kesehatan

Tahap-tahap pendidikan kesehatan, yaitu:

a.       Tahap Sensitisasi

Tahap ini dilakukan untuk memberi informasi kesadaran pada masyarakat terhadap adanya hal-hal penting berkaitan dengan kesehatan. Misalnya kesadaran akan kesehatan, pelayanan kesehatan, wabah penyakit dan kegiatan imunisasi anak.

b.      Tahap Publisitas

Tahap ini adalah tahap kelanjutan dari tahap sensitisasi, yaitu proses release dikeluarkan oleh departemen kesehatan untuk menjelaskan lebih lanjut jenis atau macam pelayanan kesehatan.

c.       Tahap Edukasi

Tahap ini adalah kelanjutan dari tahap sensitisasi. Tujuannya untuk menambah pengetahuan, mengubah sikap serta, mengarahkan kepada prilaku yang diinginkan oleh kegiatan tersebut.

d.      Tahap Motivasi

Tahap ini adalah kelanjutan dari tahap edukasi perorangan atau masyarakat setelah mengikuti pendidikan kesehatan, benar-benar mengubah prilaku sehari-hari (Azwar dikutip dalam susilo, 2011).


Metode dan Teknik Pendidikan Kesehatan

Menurut Notoadmodjo (2010), metode dan teknik pendidikan kesehatan adalah suatu kombinasi antara cara-cara atau metode dan alat-alat bantu atau media yang digunakan dalam setiap pelaksanaan promosi kesehatan. Berdasarkan sasarannya, metode dan teknik pendidikan kesehatan dibagi menjadi 3 yaitu:

a.       Metode pendidikan kesehatan individual

Metode ini digunakan apabila antara promoter kesehatan dan sasaran atau kliennya dapat berkomunikasi langsung, baik bertatap muka (face to face) maupun melalui sarana komunikasi lainnya, misal telepon. Metode dan teknik pendidikan kesehatan yang individual ini yang terkenal adalah “councelling”.

b.      Metode pendidikan kesehatan kelompok

Sasaran kelompok dibedakan menjadi dua, yaitu:

1)      Kelompok kecil (6-15 orang)

Metode dan teknik pendidikan kesehatan untuk kelompok kecil, misalnya diskusi kelompok, metode curah pendapat (brain storming), bola salju (snow ball), bermain peran (role play), metode permainan simulasi (simulation game), dan sebagainya. Untuk mengefektifkan metode ini perlu dibantu dengan alat bantu atau media, misalnya lembar balik (flip chart), alat peraga, slide, dan sebagainya.

2)      Kelompok besar (15-50 orang)

Metode dan teknik pendidikan kesehatan untuk kelompok besar, misalnya metode ceramah yang diikuti atau tanpa diikuti dengan tanya jawab, seminar, loka karya, dan sebagainya. Untuk memperkuat metode ini perlu dibantu pula dengan alat bantu misalnya, overhead projector, slide projector, film, sound system, dan sebagainya.

c.       Metode pendidikan kesehatan massa

Metode dan teknik pendidikan kesehatan untuk massa yang sering digunakan adalah:

1)      Ceramah umum, misalnya dilapangan terbuka dan tempat-tempat umum.

2)      Penggunaan media massa elektronik, seperti radio dan televisi. Penyampaian pesan melalui radio atau TV ini dapat dirancang dengan berbagai bentuk,misalnya talk show, dialog interaktif, simulasi, dan sebagainya.

3)      Penggunaan media cetak, seperti koran, majalah, buku, leaflet, selebaran poster,dan sebagainya. Bentuk sajian dalam media cetak ini juga bermacam-macam, antara lain artikel tanya jawab, komik, dan sebagainya.

4)      Penggunaan media di luar ruang,misalnya billboard, spanduk.

 

 Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan penyuluhan kesehatan

Menurut Notoatmodjo (2007) Keberhasilan suatu penyuluhan kesehatan dapat di pengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

a.       Faktor penyuluh

Faktor penyuluh yang meliputi kurangnya persiapan, kurangnya penguasaan materi yang akan dijelaskan oleh pemberi materi, penampilam yang kurang meyakinkan sasaran, bahasa yang digunakan kurang dapat dimengerti oleh sasaran, suara pemberi materi yang terlalu kecil, dan penampilan materi yang monoton sehingga membosankan.

b.      Faktor sasaran

Faktor sasaran yang meliputi tingkat pendidikan sasaran yg terlalu rendah, tingkat sosial ekonomisa saran yg terlalu rendah, kepercayaan dan adat istiadat yang telah lama tertanam sehingga sulit untuk mengubahnya, dan kondisi tempat tinggal sasaran yang tidak memungkinkan terjadinya perubahan perilaku.

c.       Faktor proses

Faktor proses penyuluhan yang meliputi waktu penyuluhan tidak sesuai dengan waktu yang diinginkan sasaran, tempat penyuluhan yang dilakukan di tempat yang dekat keramaian sehingga menggangu proses penyuluhan, jumlah sasaran yang terlalu banyak, alat peraga dalam penyuluhan kesehatan kurang, metode yang digunakan kurang tepat, dan bahasa yang digunakan sulit dimengerti oleh sasaran.

6.      Media penyuluhan

Media adalah segala sesuatu yang dapat digunaakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim pesan (penyuluhan) ke penerima pesan (sasaran) sehingga dapat menerangkan fikiran,perasaan, perhatian, dan minat sasaran sedemikian rupa sehingga terjadi pemahaman, pengertian dan penghayatan dari apa yang diterangkan (Effendy, 2012)

 a.       Macam-macam Alat Peraga

Alat peraga yang digunakan peneliti dalam pendidikan kesehatan pada penelitian ini yaitu:

1)      Alat bantu lihat (visual aids)

Berguna dalam membantu menstimulasi indra penglihatan pada waktu terjadinya proses penerimaan pesan. Yang termasuk dalam alat bantu ini adalah slide (power point) dan gambar.

2)      Leaflet

Leaflet adalah selembar kertas yang berisi tulisan cetak tentang suatu masalah khususnya untuk suatu tujuan tertentu.

Kamis, 02 Maret 2023

KONSEP REMAJA

Remaja

1.      Pengertian

Remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-21 tahun (Peraturan  Menteri Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014 dalam Kemenkes (2015). Remaja dalam ilmu psikologi diperkenalkan dengan istilah lain, seperti puberteit, adolesecene, dan youth. Remaja atau adolescence (inggris), berasal dari bahasa latin “adolesecene” yang berarti tumbuh kearah kematangan. Kematangan yang dimaksud adalah bukan kematangan fisik saja tetapi juga kematangan social dan psikologi  (Kumalasari dan Andhyantoro, 2012). Remaja adalah suatu usia dimana individu menjadi terintregasi ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia dimana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar (Piaget dalam  Ali & Asrori, 2017).

Remaja adalah suatu masa dimana individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual. Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari anak-anak menjadi dewasa, serta terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif mandiri (Muangman, 1980 dalam Sarwono, 2015).

 

2.      Karakteristik Remaja Berdasarkan Umur

Menurut Kumalasari & Andhayantoro, (2012) karakteristik remaja berdasarkan umur sebagai berikut :

a.       Masa remaja awal (Erly puberty) 10 – 12 tahun

1)      Lebih dekat dengan teman sebaya.

2)      Ingin bebas.

3)      Lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya.

4)      Mulai berpikir abstrak.

b.      Masa remaja pertengahan (middle puberty) 13 – 16 tahun

1)      Mencari identitas diri.

2)      Timbul keinginan untuk berkencan.

3)      Mempunyai rasa cinta yang mendalam.

4)      Mengembangkan kemampuan berpikir abstrak.

5)      Berhayal tentang aktivitas seks.

c.       Remaja akhir (late puberty) 17 – 21 tahun

1)      Pengungkapan kebebasan diri.

2)      Lebih selektik mencari teman sebaya.

3)      Mempunyai citra tubuh (body image) terhadap dirinya sendiri.

4)      Dapat mewujudkan rasa cinta.

Menurut Kumalasari & Andhayantoro, (2012) Tiga hal yang menjadikan masa remaja penting sekali bagi kesehatan reproduksi adalah sebagai berikut:

a.       Masa remaja (usia 10 – 21 tahun) merupakan masa yang khusus dan penting karena merupakan periode pematangan orgaan reproduksi manusia dan sering disebut masa pubertas.

b.      Masa remaja terjadi perubahan fisik (organ biologis) secara cepat yang tidak seimbang dengan perubahan kejiwaan (mental – emosional). Perubahan yang cukup besar ini dapat membingungkan remaja yang mngalaminya, karena itu perlu pengertian, bimbingan, dan dukungan-dukungan disekitarnya agar mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa yang sehat, baik jasmani, mental, maupun psikososial.

c.       Dalam lingkungan sosial tertentu, sering terjadi perbedaan perlakuan terhadap remaja laki-laki dan wanita. Bagi laki-laki, masa remaja merupakan saat diperolehnya kebebasan, sedangkan untuk remaja wanita merupakan saat dimulainya segala bentuk pembatasan.


3. Tumbuh Kembang Remaja

Menurut Kumalasari & Andhayantoro, (2012) pengertian tumbuh kembang adalah pertumbuhan fisik atau tubuh dan perkembangan kejiwaan/psikologis/emosi. Tumuh kembang remaja merupakan peroses atau tahap perubahan atau transisi dari masa kanak-kanak menjadi masa dewasa yang ditandai dengan berbagai perubahan, diantaranya adalah sebagai beruikut:

a.       Perubahan fisik meliputi perubahan yang bersifat badaniah, baik yang bisa dilihat dari luar maupun yang tidak dilihat.

b.      Perubahan emosional yang bercermin dari sikap dan tingkah laku.

c.       Perkembangan kepribadian dimana masa ini tidak hanya di pengaruhi oleh orang tua dan lingkungan keluarga tetapi juga lingkungan luar sekolah.


4.      Perubahan Fisik Pada Remaja Putri

Menurut Kumalasari & Andhayantoro, (2012) perubahan fisik pada remaja putri sebagai berikut:

a.       Tanda-tanda seks primer

Pada remaja wanita sebagai tanda kematangan orrgan reproduksi adalah ditandainya dengan datangnya mentruasi (menarce). Menstruasi adalah proses peluruhan lapisan dalam atau endometrium yang banyak mengandung pembuluh darah dari uterus melalui vagina. Hal ini berlangsung terus sampai menjelang masa menopause yaitu ketika seorang berumur sekitar 40 – 50 tahun.

b.      Tanda-tanda seks sekunder wanita

1)      Lengan dan tungkai kaki bertambah panjang, tangan dan kaki bertambah besar.

2)      Pinggul lebar, bulat, dan membesar.

3)      Tumbuh bul-bulu halus di sekitar ketiak dan vagina.

4)      Tulang-tulang wajah mulai memanjang dan membesar.

5)      Pertumbuhan payudara, puting susu membesar dan menonjol, serta kelenjar susu berkembang, payudara menjadi lebih besar dan bulat.

6)      Kulit menjadi lebih kasar lebih tebal, agak pucat, lubang pori-pori bertambah besar, kelenjar lemak, dan kelenjar keringat menjadi lebih aktif.

7)      Otot semakin besar dan semakin kuat.

8) Suara menjadi lebih penuh dan semaki merdu.



Rabu, 01 Maret 2023

KONSEP DASAR GASTRITIS

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

A.    Gastritis

1.      Pengertian

       Gastritis adalah proses inflamasi pada mukosa dan submukosa lambung atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh faktor iritasi dan infeksi.  Secara histopatologi dapat dibuktikan dengan adanya infiltrasi sel-sel radang pada daerah tersebut (Hirlan, 2009). Gastritis adalah suatu peradangan mukosa lambung yang bersifat akut, kronik difus, atau lokal dengan karakteristik anoreksia, rasa penuh, tidak enak pada epigastrium, mual dan muntah (Suratun, 2010). Gastritis merupakan peradangan yang mengenai mukosa lambung (Sukarmin, 2013).

2.      Penyebab Gastritis

Menurut Sukarmin (2013), penyebab gastritis sebagai berikut:

a.       Pemakaian Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS)

        Obat anti inflamasi (anti radang) non steroid, atau yang lebih dikenal dengan sebutan NSAID (Non Steroidal Anti-inflammatory Drugs) adalah suatu golongan obat yang memiliki indikasi analgesik (pereda nyeri), anti piretik (penurun panas) dan anti inflamasi (anti radang) (Setianinggrum, 2014). NSAID diberikan sebagai terapi awal untuk mengurangi nyeri dan pembengkakan (Suarjana, 2009).

        Pemakaian obat anti inflamasi non steroid seperti aspirin, asam mefenamat, aspilet dalam jumlah besar dapat memicu kenaikan produksi asam lambung yang berlebihan sehingga mengiritasi mukosa lambung karena terjadinya difusi balik ion hidrogen ke epitel lambung. Selain itu jenis obat ini juga dapat mengakibatkan kerusakan langsung pada epitel mukosa karena dapat bersifat iritatif dan sifatnya yang asam dapat menambah derajat keasaman pada lambung. Obat AINS efek analgetik anti inflamasinya diperoleh dengan menghambat sekresi prostaglandin yang berdampak pada peningkatan sekresi ion H+ yang dapat merusak epitel lambung dan perlemahan pada perlindungan mukosa lambung. Obat AINS juga dapat menghambat agregasi trombosit sehingga dapat terjadi bahaya perdarahan setelah terjadinya perlukaan pada mukosa lambung (Sukarmin, 2013).

        Efek samping yang paling sering terjadi adalah induksi tukak lambung atau tukak peptik yang kadang-kadang disertai anemia sekunder akibat perdarahan saluran cerna. OAINS menimbulkan iritasi yang bersifat lokal yang mengakibatkan terjadinya difusi kembali asam lambung ke dalam mukosa dan menyebabkan kerusakan jaringan. Oleh karena itu penggunaan obat ini dihindari pada pasien dengan riwayat gastritis  atau ulkus peptikum (Fajriani, 2008).

        Penelitian yang dilakukan Murjayanah (2011), menyebutkan ada hubungan antara riwayat mengonsumsi obat AINS yang mengiritasi lambung, hal ini disebabkan sebelum sakit responden mengonsumsi obat yang mengiritasi lambung seperti obat demam, obat penghilang rasa sakit/nyeri termasuk rematik, serta kurangnya pengetahuan responden tentang efek samping dari obat yaitu dapat mengiritasi lambung atau merusak dinding lambung bila digunakan secara berlebihan.

b.      Konsumsi alkohol

        Alkohol merupakan senyawa kimia yang mempunyai gugus hidroksil (-OH) yang terikat pada rantai karbon dan rantai hidrogen. Kandungan ion hidrogen itulah yang dapat meningkatkan suasana dalam lambung ketika berikatan dengan asam hidroklorida (HCL) sehingga dapat menjadi zat korosit dalam lambung. Golongan alkohol yang sederhana dan paling banyak dipakai adalah etanol dan methanol. Etanol banyak dipakai untuk campuran obat-obatan seperti sirup obat flu untuk anak. Bahan etanol merupakan salah satu bahan yang dapat merusak sawar pada mukosa lambung. Rusaknya sawar memudahkan terjadinya iritasi pada mukosa lambung (Sukarmin, 2013).

        Organ tubuh yang berperan besar dalam metabolisme alkohol adalah lambung dan hati, oleh karena itu efek dari kebiasaan mengkonsumsi alkohol dalam jangka panjang tidak hanya berupa kerusakan hati atau sirosis, tetapi juga kerusakan lambung. Dalam jumlah sedikit, alkohol merangsang produksi asam lambung berlebih, nafsu makan berkurang, dan mual. Sedangkan dalam jumlah banyak, alkohol dapat mengiritasi mukosa lambung dan duodenum (Harahap, 2009). Penelitian yang dilakukan Sani (2016), minum alkohol dalam jumlah ≥ 3 gelas merupakan faktor pemicu gastritis artinya bahwa dalam jumlah sedikit akan merangsang produksi asam lambung berlebih, nafsu makan berkurang, dan mual. Hal tersebut merupakan gejala dari penyakit gastritis. Sedangkan dalam jumlah yang banyak, alkohol dapat merusak mukosa lambung. Penelitian yang dilakukan Angkow dkk (2014) menyebutkan ada hubungan faktor mengonsumsi alkohol dengan kejadian gastritis dimana faktor alkohol berperan bagi terjadinya gastritis.

c.       Merokok

        Asam nikotinat pada rokok dapat meningkatkan adhesi trombus yang berkontribusi pada penyempitan pembuluh darah sehingga suplai darah ke lambung mengalami penurunan. Penurunan ini dapat berdampak pada penurunan produksi mukus yang berfungsi melindungi lambung dari iritasi. Selain itu karbon monoksida (CO) yang dihasilkan oleh rokok lebih mudah diikat oleh hemoglobin (Hb) daripada oksigen sehingga memungkinkan penurunan perfusi jaringan pada lambung. Kejadian gastritis pada merokok juga dapat dipicu oleh pengaruh asam nikotinat yang menurunkan ransangan pada pusat makan, perokok menjadi tahan lapar sehingga asam lambung dapat langsung mencerna mukosa lambung bukan makanan karena tidak ada makanan yang masuk (Sukarmin, 2013).

    Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang 70 hingga 120 mm (bervariasi bergantung tiap-tiap negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau, cengkeh, dan ditambahkan tobaco flavor atau saus rokok agar memberikan aroma yang khas terhadap rokok seperti aroma buah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lain. Setiap batang rokok yang dibakar akan mengeluarkan lebih 4.000 bahan kimia beracun yang membahayakan. Kandungan asap rokok terdiri dari antara lain bahan radio aktif (polonium-201), aceton, amonia naphthalene, arsenik, hydrogen cyanide dan racun yang paling terpenting adalah Tar, Nikotin, dan karbon monoksida (Sofianto, 2010).

        Efek rokok pada saluran gastrointestinal antara lain melemahkan katup esofagus dan pilorus, meningkatkan refluks, mengubah kondisi alami dalam lambung, menghambat sekresi bikarbonat pankreas, mempercepat pengosongan cairan lambung, dan menurunkan pH duodenum. Sekresi asam lambung meningkat sebagai respon atas sekresi gastrin atau asetilkolin (Beyer 2008). Kebiasaan merokok menambah sekresi asam lambung yang mengakibatkan bagi perokok menderita penyakit lambung (gastritis) sampai tukak lambung (Dermawan, 2010). Penelitian yang dilakukan oleh Imayani (2017) di wilayah kerja Puskesmas Bebesen Kabupaten Aceh menyebutkan ada pengaruh rokok dengan kejadian gastritis

d.      Pemberian obat kemoterapi

        Obat kemoterapi mempunyai sifat dasar merusak sel yang pertumbuhannya abnormal, perusakan ini ternyata dapat juga mengenai sel inang pada tubuh manusia. Pemberian kemoterapi dapat juga mengakibatkan kerusakan lambung pada epitel mukosa lambung (Sukarmin, 2013).

 

e.       Uremia

        Ureum pada darah dapat memengaruhi proses metabolisme di dalam tubuh terutama saluran pencernaan (gastrointestinal uremik). Perubahan ini dapat memicu kerusakan pada epitel mukosa lambung (Sukarmin, 2013).

f.        Iskemi/syok

        Kondisi iskemia dan syok hipovolemia mengancam mukosa lambung karena penurunan perfusi jaringan lambung yang dapat menurunkan produksi mucus (sebagai barier terhadap asam lambung) sehingga epitel mudah mengalami kerusakan dan perlukaan (Sukarmin, 2013).

g.      Infeksi mikroorganisme

        Koloni bakteri yang menghasilkan toksik dapat merangsang pelepasan gastrin dan peningkatan sekresi asam lambung seperti bakteri helicobacter pylori. Bakteri helicobacter pylori dapat mengakibatkan tukak lambung yang dysplasia sel lambung dan dapat memicu timbulnya kanker lambung (Sukarmin, 2013).

h.      Gangguan mental emosional

1)      Depresi

         Depresi adalah salah satu bentuk gangguan kejiwaan pada alam perasaan (mood) yang ditandai dengan kemurungan, kelesuan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna, putus asa dan kesedihan yang mendalam dan berkelanjutan sehingga hilangnya kegairahan hidup. Seseorang yang sehat jiwanya bisa saja jatuh dalam depresi apabila yang bersangkutan tidak mampu menanggulangi stresor psikologi yang dialaminya. Selain daripada itu ada juga orang yang lebih rentan jatuh dalam keadaan depresi dibandingkan dengan orang lain. Orang yang lebih rentan biasanya mempunyai corak kepribadian depresif, yang ciri-cirinya antara lain sebagai berikut: pemurung, pesimis menghadapi masa depan, memandang diri rendah, mudah merasa bersalah atau berdosa, mudah tersinggung dan tidak ada kepercayaan diri (Hawari, 2011).

         Menurut Hawari (2011), adapun keluhan fisik sebagai gejala akibat dari depresi yang berkepanjangan salah satunya gangguan pencernaan dan tidak nafsu makan. Pada orang yang menderita sakit secara fisik yaitu terdapat kelainan jaringan pada organ tubuh, dapat pula mempengaruhi ketahanan dan kekebalan mental emosionalnya berupa keluhan-keluhan kecemasan dan depresi sebagai gejala ikutan atau dengan kata lain penyakit fisik dapat mempengaruhi kondisi psikis seseorang, begitu juga sebaliknya.

2)      Cemas

         Kecemasan adalah gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan. Seseorang akan menderita gangguan cemas manakala yang bersangkutan tidak mampu mengatasi stresor psikososial yang dihadapinya. Tetapi pada orang-orang tertentu meskipun tidak ada stresor psikososial, yang bersangkutan menunjukkan kecemasan juga, yang ditandai dengan tipe kepribadian pencemas, yaitu cemas, khawatir, tidak tenang, ragu dan bimbang, kurang percaya diri, gerakan serba salah, tidak tenang bila duduk dan gelisah (Hawari, 2011).

         Faktor psikis dan emosi seperti pada kecemasan dapat mempengaruhi fungsi saluran cerna seperti nyeri dibagian ulu hati, mual muntah, rasa seperti terbakar di dalam perut dan perasaan kenyang dan mengakibatkan perubahan sekresi asam lambung, mempengaruhi motilitas dan vaskularisasi mukosa lambung serta menurunkan ambang rangsang nyeri (Mudjaddid, 2009).

3)      Stres berat

         Stres merupakan reaksi tertentu yang muncul pada tubuh yang bisa disebabkan oleh berbagai tuntutan, misalnya ketika manusia menghadapi tantangan-tantangan (challenge) yang penting, ketika dihadapkan pada ancaman (threat), atau ketika harus berusaha mengatasi harapan-harapan yang tidak realistis dari lingkungannya (Nasir & Muhith, 2011). Sedangkan menurut Hans Selye 1982 dalam  Yosep (2009), stres merupakan tanggapan non spesisifik terhadap setiap tuntuntan yang diberikan pada suatu organisme dan digambarkan sebagai General Adaptation Syndrome (GAS).

         Menurut Nasir & Muhith (2011), jenis stres ada dua yaitu stres yang baik (eustress) dan stres yang buruk (distress). Stres yang baik (eustress) adalah sesuatu yang positif stres dikatakan berdampak baik apabila seseorang mencoba untuk memenuhi tuntutan untuk menjadikan orang lain maupun dirinya sendiri mendapatkan sesuatu yang baik dan berharga. Sedangkan stres yang buruk (distress) adalah stres yang bersifat negatif. Distress dihasilkan dari sebuah proses yang memaknai sesuatu yang buruk, dimana respon yang digunakan selalu negatif dan ada indikasi mengganggu integritas diri sehingga bisa diartikan sebagai sebuah ancaman.

         Stres akan meningkatkan aktivitas saraf simpatik yang dapat merangsang peningkatan produksi asam lambung. Peningkatan HCI dapat dirangsang oleh mediator kimia yang dikeluarkan oleh neuron simpatik seperti epinefrin. Peningkatan HCL dapat mengikis mukosa lambung (Sukarmin, 2013). Penelitian yang dilakukan Prasetyo (2014), menyebutkan ada hubungan antara stres dengan kejadian gastritis, dimana semakin tinggi tingkat stres maka semakin rentan terkena gastritis.

3.      Klasifikasi Gastritis

Menurut Sukarmin (2013), klasifikasi gastritis sebagai berikut:

a.       Gastritis akut hemoragik erosit

        Gastritis tipe ini yang sering menyebabkan ulkus aktif, dikategorikan hemoragik erosit karena berisiko terjadi perdarahan masif dan perforasi gaster. Gastritis hemoragik erosit disebabkan oleh penggunaan obat anti inflamasi non steroid, stres, penyalahgunaan alkohol, zat kimia korosif.

b.      Gastritis aktif kronik non erosif

        Jenis peradangan lambung ini banyak terjadi pada daerah antrum, penyebab utama terjadinya gastritis aktif kronik nonerosive adalah infeksi helicoacter pylori. Bakteri helicobacter pylori merupakan bakteri yang berbentuk seperti sosis. Bakteri ini mempunyai beberapa keistimewaan sehingga dapat hidup justru di daerah yang kaya asam.

c.       Gastritis atrofi

        Penyebab tersering tipe ini adalah auto antibodi. Imunoglobulin G dan limfosit-B kehilangan daya kenal terhadap sel lambung sehingga justru malah merusaknya. Sel parietal lambung mengalami atropi dan mengalami gangguan terhadap reseptor gastrin. Atropi sel parietal dapat mengakibatkan penurunan sel sekresi getah lambung dan faktor intrinsik menurun tetapi justru terjadi peningkatan sekresi gastrin. Peningkatan sekresi gastrin akan mengakibatkan sel pembentuk gastrin mengalami hipertropi dan hiperplasia, sehingga dihasilkan histamain pada sel lambung.

d.      Gastritis reaktif

        Gastritis reaktif tersering disebabkan pasca operasi daerah antrum atau daerah pylorus yang mengakibatkan refluk enterogastrik yang menyebabkan enzim pankeras dan garam empedu menyerang mukosa lambung, sehingga mengalami pengikisan. Selain itu getah usus yang alkalis dapat menetralkan gastrin, sehingga menjadi sangat cocok untuk perkembangan helicobacter pylori.

 

4.      Manifestasi Klinis

Menurut Sukarmin (2013), gejala penyakit gastritis yang biasa terjadi adalah:

a.       Mual dan muntah.

b.      Nyeri epigastrik yang timbul tidak lama setelah makan dan minum unsur-unsur yang dapat merangsang lambung (alkohol, salisilat, makanan tercemar toksin staphylococcus).

c.       Pucat.

d.      Lemah.

e.       Keringat dingin.

f.        Nadi cepat.

g.      Nafsu makan menurun secara drastis.

h.      Rasa seperti terbakar di dalam perut.

i.        Perasaan kenyang.

5.      Pencegahan

       Penyembuhan  penyakit gastiritis harus dilakukan dengan memperhatikan diet makanan yang sesuai. Diet pada penyakit gastritis bertujuan untuk memberikan makanan dengan jumlah gizi yang cukup, tidak merangsang, dan dapat mengurangi laju pengeluaran getah lambung, serta menetralkan kelebihan asam lambung. Menurut Misnadiarly (2009), secara umum ada pedoman yang harus diperhatikan yaitu:

a.       Makan secara teratur, mulailah makan pagi pada pukul 07.00 WIB. Aturlah tiga kali makan makanan lengkap dan tiga kali makan makanan ringan.

b.      Makan dengan tenang jangan terburu-buru, kunyah makanan hingga hancur menjadi butiran lembut untuk meringankan kerja lambung.

c.       Makan secukupnya, jangan biarkan perut kosong tetapi jangan makan berlebihan, sehingga perut terasa sangat kenyang.

d.      Pilihlah makanan  yang lunak atau lembek yang dimasak dengan cara direbus, disemur atau ditim. Sebaiknya hindari makanan yang digoreng karena biasanya menjadi keras dan sulit untuk dicerna.

e.       Jangan makan makanan yang terlalu panas atau terlalu dingin karena akan menimbulkan rangsangan termis dan pilih makanan yang hangat.

f.        Hindari makanan yang pedas atau asam, jangan menggunakan bumbu yang merangsang misalnya cabe, merica dan cuka.

g.      Jangan minum minuman beralkohol atau minuman keras, kopi atau teh kental.

h.      Hindari rokok.

i.        Hindari konsumsi obat yang dapat menimbulkan iritasi lambung, misalnya aspirin, vitamin C.

j.        Hindari makanan yang berlemak tinggi yang menghambat pengosongan isi lambung (coklat, keju dan lain-lain).

k.      Kelola stres psikologi seefisien mungkin.

6.      Penatalaksanaan

       Menurut Sukarmin (2013), orientasi utama pengobatan gastritis berpaku pada obat-obatan. Obat-obatan yang mengurangi jumlah asam di lambung dapat mengurangi gejala yang mungkin menyertai gastritis dan memajukan peneyembuhan lapisan perut. Pengobatan ini meliputi:

a.       Antasida yang berisi alumunium dan magnesium dan karbonat kalsium dan magnesium. Antasida meredakan mulas ringan atau dispepsia dengan cara menetralisasi asam di perut. Dengan pemberian aluminium hidroksida atau magnesium hidroksida maka asam dalam lambung dapat di kurangi.

b.      Histamin (H2) bloker seperti famotidine dan ranitidine. Histamin bloker mempunyai dampak penurunan produksi asam dengan mempengaruhi langsung pada lapisan epitel lambung dengan cara menghambat rangsangan sekresi oleh saraf otonom.

c.       Inhibitor pompa proton (PPI), seperti omeprazole, lanzoprazole dan pantoprazole. Obat ini bekerja menghambat produksi asam melalui penghambatan terhadap elektron yang menimbulkan potensial aksi pada saraf otonom vagus.

d.      Apabila penyebabnya adalah helicobacter pylori maka perlu penggabungan obat antasida, inhibitor pompa proton dan antibiotik seperti amoksisilin dan klaritromisin untuk membunuh bakteri.

e.       Pemberian makanan yang tidak merangsang walaupun tidak mempengaruhi langsung pada peningkatan asam lambung tetapi makanan yang merangsang seperti pedas, asam,  dapat meningkatkan asam pada lambung sehingga dapat menaikan risiko inflamasi pada lambung.

f.        Penderita juga dilatih untuk manajemen stres, sebab stres dapat mempengaruhi sekresi asam lambung. Latihan mengendalikan stres bisa juga diikuti dengan peningkatan spritual sehingga dapat lebih pasrah ketika menghadapi stres.




DAFTAR PUSTAKA

Angkow, Julia dkk. (2014). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Gastritis Di Wilayah Kerja Puskesmas Bahu Kota Manado. [online]. Vol 2, No 2. Tersedia: https://ejournal.unsrat.ac.id/ (Diperoleh tanggal 24 Februari 2018).

Beyer PL. (2008).  Medical  Nutrition  Therapy  for  Upper  Gastrointestinal  Tract Disorders.  Di  dalam:  Mahan  LK  dan  Escott-stump  SE,  editor. Krause’s Food,  Nutrition,  and  Diet  Therapy  12th  Edition.  Philadelphia:  Saunders hlm. 696-716.

Dermawan, D dan Rahyuningsih, T. (2010). Keperawatan Medikal Bedah   (Sistem Pencernaan). Yogyakarta: Goysen Publishing.

Fajriani, (2008). Pemberian  Obat-Obatan  Anti  Inflamasi  Non  Steroid ( Ains )  Pada Anak [online]. Indonesian Journal of Dentistry 2008; Vol 15 (3): ISSN 1693-9697. Tersedia: http://download.portalgaruda.org/  (diperoleh tanggal 06 Maret 2018).

Harahap, Yanti, (2009). Karakteristik Penderita Dispepsia Rawat Inap  Di Rs Martha Friska Medan  Tahun 2007. (online). Tersedia: http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/14681/10E00274.pdf?sequence=1 (Diperoleh tanggal 24 Februari 2018).

Hawari, Dadang. (2011). Manajemen Stres, Cemas, Depresi. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Hirlan. (2009). Gastritis dalam Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I Edisi V. Jakarta: Interna Publishing.

Imayani, Silvi dkk. (2017).  Gastritis Dan Faktor-Faktor Yang Berpengaruh (Studi Kasus Kontrol) Di Puskesmas Bebesen Kabupaten Aceh Tengah Tahun 2017. [online]. Vol 1, No 2 (2017). Tersedia: https://ojs.stikes-bali.ac.id/index.php/jrkn/article/view/81/33 (Diperoleh tanggal 24 Februari 2018).

Mudjaddid. (2009). Dispepsia  Fungsional. Dalam Sudoyo  A.W.,  Setiyohadi  B.,  Alwi  I., Simadibrata  M.K.,  Setiati  S.  Buku  Ajar  Ilmu Penyakit Dalam. Jilid  III edisi V. Jakarta : Internal Publishing.

Nasir Abdul & Muhith Abdul. (2011). Dasar-Dasar Keperawatan Jiwa Pengantar dan Teori. Jakarta: Salemba Medika.

Prasetyo, Dhanang. (2014). Hubungan Antara stres dengan kejadian gastritis di klinik dhanang husada sukoharjo. [online]. Tersedia: http://digilib.stikeskusumahusada.ac.id/ (Diperoleh tanggal 24 Februari 2018).

Sani, Wahyu dkk. (2016). Analisis  Faktor Kejadian Penyakit Gastritis Pada Petani Nilam Di Wilayah Kerja Puskesmas Tiworo Selatan Kab. Muna Barat Desa Kasimpa Jaya Tahun 2016. [online]. VOL. 1 NO.4 ISSN 250-731X. Tersedia: https://media.neliti.com/media/publications/184565-ID-analisis-faktor-kejadian-penyakit-gastri.pdf (Diperoleh tanggal 24 Februari 2018).

Setianinggrum, Rini. (2014). Analisis Interaksi Obat Analgesik Antiinflamasi Nonsteroid ( Ains ) Pada Peresepan Poliklinik Spesialispenyakit Dalam Di Apotik Rs Islam Jakarta Pondok Kopiperiode Bulan Juli – Desember 2010. [online]. Tersedia: https://www.academia.edu/ (Diperoleh tanggal 24 Februari 2018).

Sofianto, Hufron. (2010). Mengenal Bahaya Rokok Bagi Kesehatan. Bogor: Yudhistira.

Suarjana I. Nyman. (2009). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi V. Jakarta: Interna Publishing.

Sukarmin. (2013). Keperawtan Pada Sistem Pencernaan. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

Suratun, Lusianah. (2010). Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Gastrointestinal. Jakarta. Penerbit: Trans Info Media.

Yosep, Iyus. (2009). Keperawatan Jiwa. Bandung: PT. Refika Aditama.